Survei Deloitte Ungkap Optimisme GenZ dan Milenial Hadapi Tantangan Biaya Hidup

Jumat, 20 Februari 2026 | 13:12:56 WIB
Survei Deloitte Ungkap Optimisme GenZ dan Milenial Hadapi Tantangan Biaya Hidup

JAKARTA - Tekanan biaya hidup tinggi kembali menjadi kekhawatiran utama bagi generasi muda global, terutama Generasi Z dan milenial, berdasarkan temuan Survei Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey yang dirilis pada 19 Februari 2026. Survei ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak hanya menggerus rasa aman finansial mereka, tetapi juga berdampak luas pada kebahagiaan, kesejahteraan mental, dan pilihan karier.

Data ini diperoleh dari lebih dari 23.000 responden di 44 negara, termasuk Indonesia, yang menjadikan isu biaya hidup sebagai kekhawatiran yang lebih dominan dibandingkan isu lingkungan, kesehatan mental, atau politik.

Kondisi Finansial Generasi Muda Dunia

Hasil survei menunjukkan lebih dari 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial menyatakan mereka tidak merasa aman secara finansial pada 2025. Angka ini meningkat secara signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang masih di kisaran 30–32 persen. Ketidakamanan ini bermuara pada realitas hidup sehari-hari: mayoritas responden mengaku hidup dari gaji ke gaji (52 persen) dan kesulitan menutupi kebutuhan bulanan (37 persen Gen Z dan 35 persen milenial). Ketidakpastian finansial juga membuat sebagian besar peserta survei khawatir tidak akan mampu pensiun dengan nyaman.

Pengaruh Biaya Hidup terhadap Kebahagiaan dan Kesejahteraan

Survei yang sama memperlihatkan korelasi kuat antara kesejahteraan finansial dengan tingkat kebahagiaan responden. Gen Z dan milenial yang merasa aman secara finansial jauh lebih mungkin mengaku bahagia dibandingkan mereka yang berada dalam tekanan ekonomi.

Hanya sekitar seperempat dari mereka yang merasa tidak aman secara finansial yang melaporkan tingkat kebahagiaan tinggi, sementara mereka yang merasa aman melaporkan tingkat kebahagiaan hingga dua kali lipat lebih besar. Hal ini mencerminkan bagaimana kondisi finansial harian tidak hanya memengaruhi aspek ekonomi, tetapi juga kesehatan mental dan persepsi kualitas hidup secara keseluruhan.

Dampak pada Kesehatan Mental

Selain tantangan finansial, tekanan untuk mempertahankan kehidupan yang layak turut berdampak langsung pada kesehatan mental generasi muda. Lebih dari 80 persen responden menyebutkan bahwa kekhawatiran tentang kondisi keuangan mereka — baik jangka panjang seperti menyiapkan pensiun maupun pengeluaran harian — menjadi kontributor utama stres dan kecemasan mereka.

Temuan ini sejalan dengan laporan lain yang mengatakan tekanan finansial berkontribusi secara signifikan terhadap stres kerja dan kecemasan, selain faktor lain seperti jam kerja panjang dan minimnya apresiasi di tempat kerja.

Strategi Bertahan di Tengah Tekanan

Dalam menghadapi realitas finansial yang menekan ini, banyak generasi muda mengambil pendekatan baru untuk bertahan hidup. Fenomena pekerjaan sampingan (side hustle) semakin marak; sekitar sepertiga responden menyatakan mereka memiliki pekerjaan tambahan selain pekerjaan utama, baik sebagai sumber pendapatan tambahan maupun sebagai sarana pengembangan keterampilan dan relasi profesional.

Pilihan ini mencerminkan situasi di mana kompensasi dari pekerjaan utama seringkali tidak cukup untuk menutupi biaya hidup tinggi, sehingga menuntut generasi muda untuk mencari jalan lain.

Pengaruh pada Mobilitas Karier dan Harapan Hidup

Tekanan finansial dan keinginan untuk mendapatkan stabilitas juga mendorong mobilitas karier di kalangan Gen Z dan milenial. Survei menemukan banyak dari mereka mempertimbangkan untuk berpindah perusahaan atau mencari peluang baru dalam dua tahun ke depan demi keseimbangan kehidupan yang lebih baik atau kompensasi yang lebih tinggi. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tentang biaya hidup tidak hanya memengaruhi kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga memengaruhi perencanaan jangka panjang mereka terhadap karier dan kehidupan.

Secara keseluruhan, temuan dari Survei Deloitte Global 2025 memperlihatkan bahwa biaya hidup yang semakin tinggi menjadi isu sentral yang membebani generasi muda di berbagai negara. Tidak hanya soal angka dan statistik, tekanan ini berimplikasi pada keputusan hidup dan pandangan mereka terhadap masa depan — mulai dari kesehatan mental hingga pilihan karier — yang mempertegas betapa pentingnya memahami tantangan ini untuk merancang kebijakan sosial dan ekonomi yang inklusif.

Terkini